Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 20 Maret 2011

Balaghah; Antara Ilmu dan Seni

Balaghah; Antara Ilmu dan Seni
Seseorang dikatakan sedang mempelarai ilmu balaghah jika ia mempelajari kaidah-kaidah balaghah dengan mengkajinya secara teoritik-sistematik. Seperti mempelajari materi fashal dan washal, aturan-aturan tasybih atau majaz, dasar-dasar khitobah, riwayah dan washfu. Sedangkan jika kaidah-kaidah tersebut diterapkan secara praktis aplikatif dengan membuat ungkapan-ungkapan yang baik, maka ia telah menggunakan seni balaghah. Misalkan berpidato impromtu, menulis cerita, menciptakan washfu.
Jadi, ilmu adalah akumulasi pengetahuan manusia yang tertuang dalang bahasa yang sistematis. Sedangkan seni adalah pengetahuan manusia yang berbentuk praktek-aflikatif. Seni terbagi menjadi dua macam. Pertama, seni pragmatik seperti produk yang dihasilkan oleh aktivitas tubuh manusia yang mana lebih jelas terlihat hasilnya daripada aktivitas hati. Kedua, seni estetik yakni seni yang dihasilkan dari dampak getaran hati serperti musik, sastra, lukisan, fotografi. Semuanya merupakan bahasa ungkapan yang indah yang diekspresikan dari perasaan manusia yang memiliki jiwa seni dengan media yang berbeda-beda seperti gubahan musik, ungkapan sastra, jenis-jenis tulisan, dan alat-alat lukisan. Untuk membedakan antara ilmu dan seni tersebut memerlukan lebih banyak keterangan dan tidak akan dijelaskan pada pasal ini.
Dalam pasal ini akan disinggung hubungan balaghah, baik sebagai ilmu atau seni dan manfaat-manfaatnya dari berbagai segi.
  1. Telah dibahas sebelumnya bahwa balaghah termasuk kedalam ilmu sastra dan secara umum terdapat hubungan antara balaghah dan sastra, seperti yang terdapat pada teks-teks syair dan nasr. Dan kita dapat pula membandingkan balaghah dengan kritik sastra yang kedua-duanya memberi sumbangan kepada penulis dan penyair agar dapat memperbaiki karyanya, yang mana karya tersebut memiliki pengaruh terhadap fungsi dan peran kesenian. disini kita mampu menghubungkan balaghah dan sastra yang bermakna umum. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa balaghah termauk kajian keilmuan yang membahas hubungan antara manusia dengan jaman dan tempatnya, hubungan individu dengan sosialnya seperti ilmu sejarah, geografi, ilmu hukum, ilmu sosial, dan moral.
Sudah jelas bahwa balaghah itu membahas hubungan-hubungan ini dan mendatangkan permasalahan-permaslahan umum seperti cara menyesuaikan ucapan agar kondisional seperti yang telah dijelaskan pada pasal kedua pada pendahuluan, atau dasar-dasar berpidato; yaitu hubungan antara khotib dan pendengar, keadaan zaman, sosial, dan politik yang mana sedang berkembang pada saat itu. Beitu pula hubungan penyair, cerpenis, dan orang-orang yang berprofesi dengan tulisan atau lisan.
Apa kegunaan mempelajari ilmu ini? Apakah manusia tidak akan mampu bertutur dengan baik tanpa mempelajari kaidah-kaidah balaghah?
Seperti yang dikatakan oleh ahli mantik yang telah menetapkan metode berpikir yang lurus dan tak ada seorangpun yang mengingkari kebsahan berpikir dan keindahan tutur kata meskipun tidak merujuk pada kaidah-kaidah ilmu mantik dan ilmu balghah. Ahli mantik pun menjawab bahwasanya ilmu mantik itu sebagai media untuk melatih akal terhadap metode penelitian keilmuan yang valid. Meski manusia tidak membutuhkan ilmu mantik selama jalan pemikirannya itu lurus, akan tetapi siapakah orang yang tak pernah melakukan kesalahan, lebih-lebih pada permasalahan yang sulit dan rumit.  Sepeti yang terdapat pada ilmu nahwu, arud, dan ilmu kesehatan.
Ketika pertanyaan-pertanyaan ini dilontarkan kepada ahli-ahli balaghah, maka mereka menjawab:” kita mengetahui bahwa mereka berbakat dalam memberikan penjelasan dan jiwa mereka siap menciptakan sastra yang esteteis, akan tetapi mereka seolah membiarkan diri mereka terjerembab dalam kesalahan yang bermacam-macam ketika berpidato, menulis cerpen atau kisah karena tidak dimengerti bahwa manusia dapat menguasai sendiri penelitian yang dilakukan akademikus, seniman dan kritrikus.  Maka kajian keilmuan ini dapat memperpendek pelajar dan memungkinkan untuk melakukakn penelitian yang panjang yaitu menjamin sastrawan terhindar dari penyimpangan, membuat metode yang jelas, merangakai tulisan dengan perumpamaan yang benar pada waktu pelaksanaan. Selain itu juga, hal ini dapat memberikan manfaat kepada sastrawan diantaranya memberikan manfaat-manfaat dalam mencari keterangan yang aktual mengenai permasalahan-permasalahan para ilmuan, dan para saatrawan terdahulu. Sedangkan orang yang tidak berbakat dalam hal tersebut akan bersemangat karena kajian teori ini dapat mengasah bakat utama dan mengajarkan metode membaca, metode pemahaman, metode kritik. Kesemuanya tampak kedalam berbagai aspek kesusastraan dan juga menjadikan bacaan yang mendalam dan berguna. Ini aspek pertama. Sedangakn dari aspek yang kedua mereka akan memperoleh hati yang terdidik dan menjadikan pembicaraan dan argumen-arguamen dan tulisan-tulisan mereka lebih dimengerti. Dari sini kita menemukan permasalahan-permasalahan balaghah dalam hubungannya dengan kritik sastra serta petunjuk dan kegunaannya sehingga kadang-kadang kajian ini dinamakan dengan balaghah naqdiyah atau kritik retorik.
  1. Ketika kita membahas seni pragmatik maka akan tampak dua aspek keterkaitan  yang tampak antara balghah dengannya. Pertama,  dilihat dari karakteristiknya bahwa balaghah mencakup keselarasan yang tampak dalam keserasian diantara ucapan dan kebutuhan pembaca dan pendengar dalam kondisi yang jelas.  Seperti berpidato itu terdapat situasi, ahli khitobah, dan ungkapannya. Sedangkan kitabah yang baik tidak seperti tulisan indah dalam sya’ir. Kemudian percakapan menjadi baik ketika ceramah tidak memberikan manfa’at sedikitpun. Sehingga gerakan penutur memberikan ekspresi retorik. Kedua, dilihat dari tujuan dari seni pragramtis dan balaghah. hasil-hasilnya bertujuan memberikan manfa’at yang bersifat material dan menghasilkan uang. Oleh karena itu perkembangan balghah seperti perkembangan jurnalistik umum dalam tulisan ilmiah laporan perekonomian yang mencapai tujuan yang memberikan manfa’at materi seperti pertanian dan industri.
  2. Balaghah memperkuat hubungannya dengan seni estetik karena pada hakikatnya balaghah merupakan salah satu dari seni seperti tulisan, lukisan, musik, ukiran. Disini kita dapat mengetahui kesamaan antara balaghah dan sebagian kesenian.
    1. Kemampuan mengungkapkan ungkapan yang indah dengan watak bawaannya sendiri seperti mendengarkan musik, melihat warna lukisan dan keserasian warna tersebut. Kemampuan ini dimiliki setiap manusia berbeda-beda. Kemampuan ini mempertajam kefasihan. Tempat keindahannya terjadi secara tiba-tiba seperti dalam pidato impromtu yang membutuhkan ketenangan jiwa. Kemampuan bawaan ini sebagai langkah awal dalam sumber penjelasan utama. Telah dikemukakan sebelumnya bahwa jiwa seni dalam diri manusia mampu menciptakan penemuan-penemuan baru. Mereka mengakui akan pengaruh tulisan dan mereka memanfaatkan kajian teori dalam penemuana baru itu.
    2. Mempelajari balaghah tidak ubahnya mempelajari bidang seni yang lain yang tidak cukup dengan kemampuan bawaan, akan tetapi memerlukan latihan dalam waktu yang panjang dalam meningkatkan kemampuan perkembangan untuk mencapai tingkat menengah terhadap sumber dan penemuan. Di sini kita menemukan aspek uslub dan mengharuskun uslub terhadap kesusastraan dan sastrawan. Jika tidak seperti itu maka kemampuan manusia tidak akan berkembang akan tetapi mengalami stagnasi yang tidak akan melahirkan pembaharuan.
    3. Uslub balaghah seperti dalam seni musik dan seni lukis yang menjelaskan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh si pelajar dan mesti ada penjelasan seringakas mungkin. Hal itu memudahkan sastrawan untuk mengekspresikan pemikirannya dan susunan-susunan yang sembarang tanpa memikirkan makna-maknanya dan ukuran-ukuran kesamaannya terhadap tujuan yang dimaksud.
    4. Berkembangnya pemikiran para seniman itu bergantung kepada peajaran balaghah. Yaitu menggabungkan seni dengan  landasan teoritis yang melampaui kebebasan pelajar dan membatasi kecakapannya. Sama halnya ketika uslub ini yang mempertimbangkan awal kemunculannya itu banyak menyimpang dari aturan. ketika kita mengeluarkan balaghah dari teori maka kita membatalkan usaha para pendahuludan kita memperlihatkan orang yang mengembangkan kepentingan penelitian yang dibebankan. Sebaiknya para pelajar memanfaatkan pemikiran-pemikiran orang terdahulu sebagai permulaan dan petunjuk. Setelah itu pelajar menghasilkan pembaharuan –pembaharuan yang dikehendakinya.
    5. Jika kita perhatikan unsur-unsur tulisan seperti yang terdapat pada pashl awal dari segi tujuan yaitu pembelajaran dan pelatihan kesusastraan, atau dari segi hubungan dengan musik sastrawi. Kita melihat bahwa balaghah menunjukan keistimewaan seni –seni lain yang estetis.
Ketika pertanyaan ini ditujukan kepada ahli balaghah maka mereka berkata “ kami tahu bahwa mereka itu mampu menciptakan sastra yang indah, akan tetapi mereka menolak terhadap kejadian-kejadian terhadap kesalahan yang bermacam-macam ketika mengambil aturaan-aturan berpidato, riwayah, dan qisah, karena tidak bisa dipahami. Telah kita ketahui bahwa balaghah arabiyah terbatas pada dua bahasan dasar, yaitu ma’ani dan bayan. Kemudian keduanya digabungkan menjadi badi’. Kita perhatikan pembahasannya tidak akan keluar dari jumlah dan pelajarannya serta bentuk untuk memberi kekuatan dalam memahaminya. Kita juga dapat melihat seperti sebelumnya bahwa teori balaghah lebih penting dan lebih berisi dari itu karena ia tidak terdiri dari susunan yang bebas seperti pada ma’ani, bayan, dan badi’ yang membutuhkan kebebasan untuk menutupi kelemahannya dan tidak akan dijawab dalam pembahasan ini.
Teori Ilmu Balaghah
Studi balaghah terbatas pada dua pokok dasar keilmuan, yaitu ma’ani, bayan, dan ditambah dengan badi’. Jika diperhatikan, pembahasan ilmu ini tidak keluar dari ruang lingkup studi kalimat (jumlah) dan bentuknya untuk memberikan kekuatan pada pemahaman jiwa. Di sini juga akan ditemukan – seperti telah dijelaskan sebelumnya – bahwa teori ilmu balagahah lebih umum dan lengkap.
Teori balaghah akan diketahui dengan mengembalikan pada aspek-aspek yang lebih penting, yaitu perkataan (kalam) yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Ilmu balaghah membahas sekitar masalah ini dan memaparkan kesesuaian dan ketidaksesuainanya karena sebaik-baiknya perkataan yang diungkapkan dalam sebuah komunitas tertentu mungkin saja tidak pantas diungkapkan pada komunitas lain. Perkataan yang baik dalam mencapai tujuan gaya bahasa belum tentu baik jika dipakai untuk mencapai tujuan sastra. Masalah dalam hal ini adalah penjelasan tentang kesesuain. Oleh karena itu dua pertanyaan timbul, yaitu apa yang diucapkan dan bagaimana mengucapkannya?
Pertanyaan pertama dapat dijawab oleh kaidah tertentu, yaitu pada materi kalam baligh dilihat dari teori dan gagasannya, kelembutan dan imajinasinya. Sedangkan pertanyaan kedua dapat dijawab oleh metode pengungkapan kata-kata dari teori tersebut dan pengungkapannya.
Perhatian utama terletak pada penyampaian ungkapan yang mengandung materi atau setidaknya menyentuh materi. Apabila materi merupakan alat pengukur ungkapan dan penyebab terbaginya ungkapan, maka uslub membedakan antara khitobah dan risalah dan antara ungkapan pertanyaan dan ungkapan pernyataan. Oleh karena itu pembelajaran materi ini tidak akan jauh dari ungkapan-ungkapan perkataan. Dalam materi ini sesuatu tidak dianggap terpisah atau sedikit akan tetapi mempertimbangkan kesesuaiannya. Materi disampaikan dengan bahasa yang berbentuk laporan keterangan ataupun percakapan. Penelitian yang seksama tidak akan mampu membentuk kalimat dengan judul dan beberapa kalimat kecuali jika memandang makna, yaitu ukuran sifat seperti yang telah diungkapkan sifat uslub. Makna yang dipelajari dalam balaghah dilakukan dengan mempertemukan kedua dasarnya seperti telah disebutkan sebelumnya. Keduanya akan terpisah antara bagiannya masing-masing apabila kembali pada asalnya untuk melihat masalah masing-masing dengan jelas, yaitu ketika membahas kebenaran gagasan di dalamnya atau dalam masalah struktur nahwunya. Pembahasan balaghah tidak memandang pemisahan antara keduanya dalam satu langkah.
Praktek merupakan instrumen penting dalam pembelajaran ilmiah yang memperbolehkan kita mendapatkan setiap ilmu dan pelajaran yang tinggi di dalamnya. Oleh karena itu teori balaghah terbagi menjadi dua, yaitu uslub/gaya bahasa dan seni sastra.
Uslub/style/gaya adalah bagian dari ilmu balaghah yang terdiri dari kaidah seperti ungkapan yang baik, jelas, dan memberikan pengaruh. Di sini akan dibahas tentang kata, gambaran, kalimat, paragraf, ungkapan, dan gaya bahasa dari segi macamnya, unsurnya, sifatnya, posisinya dan nadanya.
Dalam bab ini akan dibahas balaghah arabiyah. Ilmu ma’ani dan bayan akan membahas dalam sebuah kalimat, sedangkan dalam ilmu badi’ membahas penggambaran kalimat tersebut. Buku ini tidak akan membahas tuntas studi balaghah akan tetapi dijelaskan dalam buku Aqdamain Kashana’atain. Dalil-dalil tentang i’jaz, rahasia keindahan balaghah dan contoh dari setiap bahasan dipaparkan secara mendetail dengan ungkapan yang mengandung seni secara umum akan tetapi tidak tersusun secara rapi.
Seni sastra sering disebut ibtikar (invention) di dalamnya dipelajari kalam dari segi pemilihan dan pembagian kalam serta semua bidang yang berkaitan dengan bidang sastra. Batasan yang dipelajari adalah cerita prosa, makalah, sifat, surat, debat dan sejarah. Ini dilakukan untuk melihat kesulitan dalam mempelajari bidang ini. Oleh karena itulah materi ini tidak dapat diberikan kepada pelajar yang memiliki logika dan pikiran nalar tidak cukup. Membaca dan mempelajari kemudian mencoba materi ini akan membuka pikiran dan mengetahui kebenarannya. Ilmu balaghah hanya mengikuti apa yang berkaitan dengan makna dan macam-macam struktur yang berdiri untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Masalah dalam hal ini adalah keberhasilan yang pernah dilakukan bahwa ilmu balaghah lebih condong pada kajian kalimat dari segi bentuk dan gaya bahasanya. Ilmu balaghah tidak tergantung pada kekuatan pikiran akan tetapi pada kebenaran pikiran. Tidak pula pada pembentukannya tetapi pada perangkaiannya, yaitu banyak makna dalam ungkapan dan gaya dimana sebagian peneliti menyebutnya dengan kalimat uslub. Perbedaan pendapat merupakan hal yang penting untuk membangun balaghah seperti yang dipelajari dalam materi sekarang dan tidak akan terlepas dari dua persoalan, yaitu apa yang diucapkan? dan bagaiman ucapannya?
Kita dapat melihat konstruksi ilmu balaghah dalam pembagian gaya bahasa seperti yang ditemukan seperti bangunan dalam pembagian bidang sastra. Kecuali jika terjadi pemisahan pembahasan yang bertujuan selain sastra seperti penelitian sastra dan resepsi sastra.
Dengan mempertimbangkan pembahasan balaghah seperti yang dikemukakan banyak pengarang dengan teorinya, maka wajib dalam mempelajarinya untuk mengetahui beberapa hal, diantaranya:
  1. Bahwa sebagian teori balaghah mengkaji tentang bahasa. Lebih banyaknya merupakan bagian dari seni sastra dan gaya bahasa seperti terjemahan catatan khitobah dan syair yang di dalamnya memiliki makna falsafah bukan makna sastra.
  2. Sebagian dari uslub telah dipelajari pada bagian ma’ani, bayan, dan badi’. Dimana sebagian tujuan kepentingannya yaitu kesulitan dalam menyusun gaya bahasa tersebut.
  3. Tujuan ilmu balaghah arab adalah menemukan teori baru dalam pembahasan ini dan bidang lainnya. Ini akan dihubungkan dengan kebiasaan orang-orang dalam kebiasaan menyampaikan ungkapan yang sesuai dengan waktu dan tempat sehingga tujuan sastra dapat tercapai. Keseluruhan dalam ilmu balaghah akan dibahas kecuali penelitian sejarah karena memiliki pembahasan tersendiri. Penelitian ini telah disampaikan dalam pendahuluan dalam metode baru ini. Ini disebabkan karena ilmu balaghah perlu dipaparkan asal mulanya khususnya balaghah arab. Dalam pembahasan ini tidak akan disinggung tentang sejarah ilmu balaghah karena zaman dan wilayah pembahasan yang berbeda. Buku ini diharapkan menjadi buku balaghah yang baru yang tidak mengangkat sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak memiliki pembaharuan dimana telah dibahas oleh pengarang sebelumnya.
  4. Sastrawan mengantarkan manusia mempelajari balaghah sehingga tidak tercampur di dalamnya dominasi madzhab-madzhab filsafat. Oleh karena itu pembahasan lafadz yang memiliki kecacatan seperti dalam ilmu matematika dan ilmu kimia.
Penulis tidak melakukan sesuatu apapun dalam pemisahan ini kecuali mengasumsikan dua hal, yaitu indikatornya terletak apa bahasan yang akan dimunculkan ke permukaan.
Pengarang memberikan gaya bahasa yang digunakan oleh kebanyakan orang, oleh karena itu pembahasan dari awal hubungan penelitian/pembahasan sampai tuntas dalam ilmu balaghah arab.

1 komentar:

kim hee yin mengatakan...

good job......